Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Sembilan Orangutan Korban Kebakaran Kembali ke Hutan Lindung Ketapang

2026-11-01 17:06 WIB · aindari

BKSDA Kalimantan Barat melepasliarkan sembilan orangutan hasil penyelamatan dari wilayah terdampak karhutla setelah menjalani perawatan di pusat rehabilitasi.

Sembilan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) kini menempati habitat baru di Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pelepasliaran dilakukan pada 29 Oktober 2026 oleh Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat bersama DLHK Kalbar, KPH Ketapang Utara, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Satwa yang dikembalikan ke alam terdiri atas empat pasangan induk dan anak, yakni Mama Angelo-Angelo, Mama Ocha-Ocha, Mama Satya-Satya, serta Mama Pia-Pia. Satu orangutan lain merupakan betina dewasa bernama Mama Noni. Sebelum translokasi, pemeriksaan medis menemukan Mama Ocha, Mama Pia, dan Mama Satya sedang bunting.

Kondisi habitat baru diharapkan memungkinkan ketiga orangutan tersebut melahirkan dan merawat anaknya di alam. Batu Nyambu dipilih melalui kajian kesesuaian habitat serta daya dukung ekologis. Kawasan itu memiliki luas sekitar 23.000 hektare, dengan ketersediaan pakan, air, pohon untuk bersarang, dan ruang jelajah yang terhubung dengan kawasan hutan lindung lain di lanskap Arabella-Schwaner.

Lokasi tersebut juga dinilai relatif lebih aman dari ancaman kebakaran. Kelestarian hutan mendapat dukungan warga Desa Batu Lapis dan Desa Sekukun, yang selama ini menjaga kawasan tersebut sebagai sumber kehidupan. Faktor ekologis dan dukungan masyarakat menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses pelepasliaran.

Sembilan orangutan itu sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak kebakaran hutan dan lahan di Ketapang serta Kayong Utara selama September 2026. Empat pasangan induk dan anak ditemukan di kawasan bernilai konservasi tinggi dalam konsesi perkebunan kelapa sawit PT KALE. Sementara itu, Mama Noni dievakuasi dari perkebunan campuran milik warga di Desa Pemangkat, Kayong Utara.

Ketika ditemukan, seluruh satwa mengalami dehidrasi dan malnutrisi karena kehilangan habitat serta sumber pakan. Ocha dan Mama Ocha juga mengalami luka bakar pada kaki, yang diduga muncul setelah keduanya melewati lahan gambut yang terbakar. Mereka kemudian mendapat perawatan intensif dan menjalani pemulihan di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI, Sungai Awan, Ketapang.

BKSDA menilai karhutla menambah tekanan terhadap konservasi orangutan karena mengurangi habitat dan sumber kehidupan satwa liar. Penyelamatan menjadi langkah awal, tetapi perlu dilanjutkan dengan rehabilitasi dan pengembalian satwa ke habitat yang sesuai agar upaya konservasi tidak berhenti pada evakuasi.

Tag: orangutan, karhutla, Ketapang, BKSDA Kalimantan Barat