Berani Tekankan Peran Warga Tionghoa dalam Sejarah Kebangsaan
2026-07-20 06:03 WIB · aindari · 👁 491 dibaca

Daniel Johan menyebut kontribusi etnis Tionghoa perlu terus diingat sebagai bagian dari perjalanan Indonesia yang majemuk.
Pembina DPP Badan Persaudaraan Antariman (Berani) Daniel Johan menilai masyarakat Tionghoa memiliki tempat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ia menyampaikan pandangan itu saat membuka dialog kebangsaan bertema Peran Tionghoa dalam Pusaran Kebangsaan di Jakarta, Minggu.
Daniel mengatakan sejarah Indonesia tidak dibentuk oleh satu kelompok saja, melainkan oleh keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Dalam konteks itu, ia menempatkan komunitas Tionghoa sebagai bagian dari warga bangsa yang turut memberi kontribusi pada perjuangan kemerdekaan, pembangunan ekonomi, pendidikan, serta perkembangan kebudayaan nasional. Menurut dia, ingatan atas peran tersebut perlu dijaga agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Dialog kebangsaan itu diselenggarakan Berani untuk memperingati Hari Lahir Ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Berani merupakan badan otonom di bawah PKB yang bergerak pada isu pluralisme. Daniel menyebut PKB sejak awal berdiri dengan dukungan para ulama Nahdlatul Ulama membawa nilai kebangsaan sebagai dasar perjuangan politiknya.
Ia menegaskan pluralisme, bagi PKB, bukan sekadar gagasan, melainkan prinsip yang perlu tampak dalam kebijakan dan tindakan. Karena itu, hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk komunitas Tionghoa, dipandang sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan berbangsa yang setara dan saling menghormati.
Daniel juga mengaitkan kedekatan PKB dengan komunitas Tionghoa pada warisan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut dia, Gus Dur berperan dalam memulihkan kehormatan, martabat, dan hak-hak warga Tionghoa di Indonesia setelah mengalami diskriminasi serta pengaburan sejarah selama puluhan tahun.
Ia menyebut hubungan PKB dan masyarakat Tionghoa bertumpu pada nilai kemanusiaan, keadilan, serta persamaan hak sebagai warga negara. Fondasi itu, kata Daniel, tetap dijaga hingga kini seiring upaya PKB memperkuat diri sebagai ruang kebangsaan yang terbuka bagi seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun etnis.
Daniel mengajak berbagai pihak meneladani nilai-nilai Gus Dur dalam membangun Indonesia yang damai, inklusif, dan beradab. Ia menilai perawatan sejarah berkaitan langsung dengan masa depan bangsa, terutama ketika setiap warga merasa dihargai, mendapat perlindungan, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya serta mengabdi kepada negara.
Tag: Tionghoa, Berani, PKB, Gus Dur, Pluralisme