Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Dari Kosmetik hingga Rompi Anti Peluru, Sawit Ternyata Meresap dalam Keseharian Kita

2026-07-30 06:13 WIB · aindari · 👁 710 dibaca

BPDP menegaskan kelapa sawit bukan sekadar minyak goreng — turunannya hadir di berbagai produk sehari-hari sekaligus menjadi tulang punggung devisa nasional.

Kelapa sawit ternyata jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat daripada yang disadari. Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim, mengungkapkan hal itu dalam Media Briefing bertema industri sawit berkelanjutan yang digelar di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu.

Menurut Zaid, tanpa disadari, produk turunan sawit menemani aktivitas manusia nyaris sepanjang waktu. Kosmetik yang dipakai saat berdandan, minyak goreng di dapur, hingga bahan bakar kendaraan — semuanya mengandung unsur sawit. Bahkan limbah dari pengolahan sawit pun tidak terbuang sia-sia; limbah tersebut telah dimanfaatkan untuk membuat helm, kain batik, sampai rompi anti peluru.

Di antara berbagai tanaman penghasil minyak nabati, sawit memiliki keunggulan produktivitas yang mencolok. Satu hektare lahan sawit mampu menghasilkan sekitar 4 ton minyak, angka yang jauh melampaui kedelai dengan 0,4 ton per hektare, bunga matahari 0,6 ton per hektare, maupun kacang merah yang produktivitasnya tidak mencapai seperlima dari sawit. Keunggulan inilah yang membuat sawit dijuluki tanaman penghasil minyak nabati paling efisien dalam penggunaan lahan. Zaid mengilustrasikan, jika dunia harus memenuhi kebutuhan minyak nabati dalam jumlah yang sama tanpa mengandalkan sawit, lahan pertanian yang dibutuhkan akan jauh lebih luas.

Bagi perekonomian Indonesia, peran sawit tidak kalah strategis. Komoditas ini menghasilkan nilai ekspor lebih dari 20 miliar dolar AS setiap tahun, menjadikannya salah satu penyumbang devisa terbesar negara. Yang lebih menggembirakan, struktur ekspor sawit Indonesia kini telah bergeser secara signifikan: 80 persen dari total ekspor sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah. Pergeseran ini menandakan hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional.

Kontribusi sawit tidak berhenti pada devisa semata. Sektor perkebunan secara keseluruhan — dengan sawit sebagai salah satu komponennya — menyumbang sekitar 4,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2025. Angka ini menempatkan sektor perkebunan sebagai bagian penting dari pertanian, yang pada gilirannya menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.

Tag: kelapa sawit, BPDP, hilirisasi, devisa, minyak nabati