Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Silvofishery Ubah Sikap Petambak Sepatin: Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Dianggap Ancaman

2026-08-01 06:03 WIB · aindari · 👁 570 dibaca

Pola tanam silvofishery dalam program M4CR berhasil meyakinkan petambak di Kutai Kartanegara bahwa pelestarian mangrove dan budidaya ikan bisa berjalan beriringan.

Kekhawatiran petambak di Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, terhadap program rehabilitasi mangrove perlahan mulai memudar. Pendekatan silvofishery yang diterapkan dalam program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) menjadi faktor utama yang mengubah persepsi mereka.

Selama ini, sebagian petambak enggan terlibat dalam rehabilitasi mangrove karena program sebelumnya menanam mangrove hampir di seluruh area tambak. Kondisi itu membuat mereka khawatir tambak menjadi kotor dan produksi budidaya terganggu. Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Peduli Hutan Mangrove, Suwardi, mengungkapkan hal tersebut dalam acara Temu Media bersama Masyarakat Pesisir Desa Sepatin, Jumat.

Berbeda dari pendekatan lama, M4CR menerapkan konsep silvofishery — perpaduan antara tambak budidaya dan vegetasi mangrove — sehingga kedua fungsi itu tidak saling meniadakan. Penanaman tidak dilakukan di seluruh area tambak, melainkan dirancang agar kegiatan budidaya tetap bisa berlangsung. Suwardi menyebut pola tanam yang berbeda inilah yang membuat minat masyarakat untuk ikut merehabilitasi mangrove mulai meningkat pada periode 2025 hingga 2026.

Selain hambatan teknis, ada pula keraguan yang bersifat sosial. Sejumlah petambak sempat takut lahan mereka akan diambil alih pemerintah jika ikut serta dalam program rehabilitasi. Kekhawatiran itu mereda setelah Kementerian Kehutanan menyampaikan secara langsung bahwa tidak ada tambak yang akan direbut paksa melalui program ini. Kepastian tersebut, menurut Suwardi, turut memperkuat kepercayaan warga untuk berpartisipasi.

Secara teknis, KTH Peduli Hutan Mangrove telah menerapkan pola silvofishery di kawasan tambak dengan luas penanaman 31 hektare pada 2025, sementara penanaman 29 hektare pada 2026 masih berlangsung. Dari penanaman tahun pertama, kelompok ini mencatat tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove sebesar 61 persen.

Program M4CR di Kalimantan Timur menggunakan pendekatan partisipatif, melibatkan kelompok masyarakat secara langsung dalam proses rehabilitasi. Model ini dinilai lebih sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi petambak pesisir dibanding program rehabilitasi konvensional yang kerap mengabaikan kepentingan budidaya warga setempat.

Keberhasilan mengajak petambak Sepatin berpartisipasi menunjukkan bahwa pelestarian ekosistem mangrove tidak harus bertentangan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir. Dengan pola yang tepat, keduanya dapat berjalan berdampingan dan saling menopang.

Tag: silvofishery, rehabilitasi mangrove, M4CR, Kutai Kartanegara, tambak pesisir