Sepertiga Perempuan Tidak Tahu Dirinya Sudah Memasuki Perimenopause
2026-08-05 17:17 WIB · aindari · 👁 320 dibaca

Studi internasional menemukan banyak perempuan kesulitan mengenali fase perimenopause karena gejalanya mirip penyakit lain.
Sebagian besar perempuan yang sudah memasuki masa transisi menuju menopause ternyata tidak menyadarinya. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Menopause mengungkap bahwa sekitar 34 persen perempuan berusia 35 tahun ke atas tidak yakin apakah mereka sedang berada dalam fase perimenopause atau tidak.
Studi ini melibatkan 7.640 perempuan pengguna aplikasi pelacak menstruasi dan kesuburan Flo, dan dilakukan oleh peneliti dari Inggris, Irlandia, serta Amerika Serikat. Ketidaktahuan itu bahkan lebih tinggi pada kelompok usia 40 hingga 44 tahun, di mana angkanya mencapai 42 persen. Sementara di antara perempuan yang mengalami gejala perimenopause berat, 37 persen mengaku tidak tahu sedang berada di tahap reproduksi mana.
Alasan terbesar yang dikemukakan responden adalah sulitnya membedakan gejala perimenopause dari kondisi kesehatan lain. Lebih dari separuh responden, yakni 56 persen, menyebut gejala yang mereka rasakan kerap tumpang tindih dengan penyakit lain. Selain itu, 28 persen mengaku memang belum memahami seperti apa gejala perimenopause itu sendiri. Sebagian perempuan juga menghadapi hambatan saat mencari bantuan medis — keluhan mereka dianggap tidak berhubungan dengan perimenopause, atau dokter menilai mereka masih terlalu muda untuk mengalami fase tersebut.
Perimenopause sendiri adalah masa transisi sebelum menopause yang umumnya berlangsung empat hingga delapan tahun. Berbeda dari menopause yang ditandai dengan berhentinya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, perimenopause ditandai oleh perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron. Gejala yang muncul bisa sangat beragam: siklus menstruasi tidak teratur, hot flashes atau sensasi panas mendadak, keringat malam, nyeri sendi, sakit kepala, kenaikan berat badan terutama di area perut, hingga vagina kering.
Penulis utama penelitian, Yihan Xu, menyatakan bahwa memahami sumber kebingungan ini merupakan langkah awal yang penting untuk meningkatkan edukasi dan dukungan bagi perempuan yang tengah menjalani masa transisi tersebut.
Dari sisi medis, Profesor Mindy Goldman dari University of California San Francisco School of Medicine menjelaskan bahwa tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang bisa memastikan seseorang sedang mengalami perimenopause. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan kombinasi usia, perubahan siklus menstruasi, riwayat kesehatan, dan pola gejala. Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dengan gejala serupa, seperti gangguan tiroid, anemia, atau diabetes, terutama jika keluhan muncul sebelum usia 40 tahun.
Goldman menekankan bahwa mengenali perimenopause lebih awal memberi manfaat nyata. Perempuan bisa mendapatkan penanganan yang tepat, termasuk terapi hormon bila diperlukan, untuk meredakan gejala sekaligus membantu mencegah penurunan kepadatan tulang.
Tag: perimenopause, kesehatan perempuan, menopause, hormon, edukasi kesehatan