Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Pemulihan 1.308 Hektare Sawah Terdampak Banjir di Aceh Barat Telan Dana Rp6 Miliar

2026-08-10 06:04 WIB · aindari · 👁 786 dibaca

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menggelontorkan dana swakelola senilai Rp6 miliar kepada 96 kelompok tani untuk memperbaiki lahan persawahan yang rusak akibat banjir bandang November 2025.

Kabupaten Aceh Barat tengah menggenjot pemulihan ribuan hektare lahan sawah yang porak-poranda diterjang banjir bandang pada 26 November 2025. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura setempat telah menyalurkan anggaran sebesar Rp6 miliar langsung ke rekening kelompok tani agar proses perbaikan dapat segera berjalan. Dana tersebut merupakan bagian dari program optimalisasi lahan terdampak bencana yang bertujuan mengembalikan produktivitas pertanian di kawasan itu.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat, Hendra Marsigi, menerangkan bahwa total lahan sawah yang menjadi sasaran pemulihan mencapai sekitar 1.308 hektare. Seluruh anggaran bersumber dari pemerintah dan disalurkan melalui mekanisme swakelola tipe IV, yang berarti pengerjaan fisik di lapangan sepenuhnya dilakukan oleh kelompok tani penerima dana.

Jenis pekerjaan yang dilaksanakan cukup beragam, meliputi pemasangan pipa irigasi, normalisasi saluran air, serta peningkatan kapasitas drainase di area persawahan. Menurut Hendra, pendekatan swakelola dipilih agar petani dapat langsung terlibat dalam proses rehabilitasi lahan mereka sendiri sehingga pelaksanaannya lebih cepat dan tepat sasaran.

Program ini menjangkau 96 kelompok tani yang tersebar di delapan kecamatan, yakni Kaway XVI, Pante Ceureumen, Arongan Lambalek, Bubon, Woyla, Woyla Barat, Woyla Timur, dan satu kecamatan lainnya. Khusus untuk wilayah Kecamatan Sungai Mas, penanganannya akan dipisahkan dan dimasukkan ke dalam program rehabilitasi lahan tersendiri.

Hendra menyampaikan bahwa pihaknya memasang target penyelesaian seluruh pekerjaan konstruksi pada akhir September atau paling lambat awal Oktober mendatang. Tenggat waktu tersebut dipilih karena memasuki awal Oktober, musim tanam rendeng sudah mulai bergulir. Jika perbaikan infrastruktur irigasi dan drainase tuntas tepat waktu, para petani diharapkan bisa langsung mengolah sawah mereka kembali tanpa kehilangan momentum musim tanam.

Upaya percepatan ini menjadi krusial mengingat lahan seluas lebih dari seribu hektare tersebut merupakan sumber penghidupan utama bagi masyarakat tani di Aceh Barat. Keterlambatan pemulihan berpotensi mengganggu produksi pangan lokal dan memperburuk kondisi ekonomi petani yang sudah terdampak bencana banjir bandang beberapa bulan sebelumnya.

Tag: Aceh Barat, rehabilitasi lahan sawah, banjir bandang, swakelola kelompok tani, pertanian