Kabupaten Bekasi Uji Coba Sistem Tanam Modern, Targetkan Produktivitas Padi Dua Kali Lipat
2026-08-10 06:10 WIB · aindari · 👁 344 dibaca

Pemkab Bekasi meluncurkan program pertanian modern berbasis tanam benih langsung di lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi, dengan target hasil panen mencapai 10 ton per hektare.
Kabupaten Bekasi mulai meninggalkan pola tanam padi konvensional dengan memperkenalkan program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS). Sistem ini mengandalkan skema tanam benih langsung atau Tabela, dan untuk tahap awal diterapkan pada lahan milik Kelompok Tani Warudoyong I di Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu, seluas 4.000 meter persegi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid, menyebut program ini dirancang sebagai inovasi bersama antara penyuluh pertanian dan kelompok tani guna mendorong efisiensi sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani padi. Petani diperkenalkan pada serangkaian praktik terukur, mulai dari pengolahan lahan, pengujian pH tanah, pemupukan sesuai dosis anjuran, hingga pengendalian gulma sebelum masa tanam dimulai.
Pada tahap awal ini, varietas padi yang digunakan adalah Inpari 33 dengan jumlah benih sekitar 15 kilogram. Target minimalnya adalah empat ton gabah saat panen. Namun secara keseluruhan, program PM-AAS dipatok mampu menghasilkan hingga 10 ton per hektare — jauh di atas rata-rata hasil panen di wilayah tersebut yang selama ini hanya berkisar lima ton per hektare.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu, Ubuh Buhori, menjelaskan bahwa sebelum penanaman, tim penyuluh bersama petani terlebih dahulu menguji keasaman tanah. Hasilnya menunjukkan pH 5,5, sehingga diperlukan aplikasi kapur dolomit sebanyak 500 kilogram untuk lahan percontohan tersebut, diberikan dalam dua tahap: saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam. Sehari sebelum benih ditebar, lahan juga disemprot herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma.
Salah satu perubahan penting dalam sistem ini menyangkut manajemen air. Setelah benih ditanam, lahan tidak boleh tergenang selama lima hari pertama agar benih tidak membusuk dan terhindar dari penyakit. Pemupukan pertama baru dilakukan ketika tanaman berumur sekitar 10 hari. Ubuh mengakui kebutuhan pupuk dalam sistem PM-AAS lebih tinggi dibanding pola konvensional karena jarak tanam yang lebih rapat, namun ia meyakini teknologi ini mampu mendongkrak produktivitas secara signifikan.
Lahan di Bojongmangu sengaja difungsikan sebagai demonstration plot atau demplot agar petani bisa menyaksikan langsung perbedaan antara metode tradisional dan pendekatan modern. Ke depan, pihak dinas berharap setiap desa memiliki setidaknya dua hektare lahan demonstrasi serupa, sehingga lebih banyak petani terdorong beralih dari kebiasaan bertani yang diwariskan turun-temurun.
Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, Yusup Saepuloh, menyambut program ini sebagai langkah awal yang berarti. Ia berharap hasil uji coba di lahan percontohan ini nantinya bisa menjadi rujukan sebelum sistem PM-AAS diterapkan secara lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani di wilayahnya.
Tag: pertanian modern, Kabupaten Bekasi, PM-AAS, produktivitas padi, tanam benih langsung