Iran Bekukan Negosiasi dengan AS, Tuntut Kepatuhan terhadap MoU Sebelum Lanjut Berunding
2026-08-10 10:31 WIB · aindari · 👁 776 dibaca

Menlu Iran menegaskan pembicaraan dengan Washington tak akan dilanjutkan selama AS masih melanggar nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan bahwa negosiasi antara Teheran dan Washington saat ini berada dalam kebuntuan. Berbicara kepada wartawan di sela sebuah acara di Teheran pada Minggu (9/8), Araghchi menegaskan pembicaraan formal tidak akan bisa dilanjutkan selama Amerika Serikat belum menghentikan pelanggaran terhadap nota kesepahaman (MoU) yang baru-baru ini ditandatangani kedua negara.
Araghchi mengklarifikasi bahwa meski komunikasi antara kedua pihak belum sepenuhnya terputus, sifatnya bukan negosiasi dalam arti sesungguhnya. Pesan-pesan masih dipertukarkan lewat negara-negara perantara, namun ia menegaskan proses semacam itu tidak bisa disebut perundingan. Selain menghentikan pelanggaran, Iran juga mensyaratkan adanya kompensasi atas pelanggaran yang telah dilakukan AS sebagai prasyarat sebelum meja perundingan bisa dibuka kembali.
Ketegangan ini berakar dari MoU yang ditandatangani Iran dan AS pada Juni lalu, yang mencakup penghentian perang di berbagai front konflik termasuk Lebanon. Kedua pihak semula dijadwalkan menggelar perundingan lanjutan dalam 60 hari untuk mencapai kesepakatan final. Namun eskalasi terbaru di kawasan membuat jadwal itu terganggu dan kelanjutan prosesnya menjadi tidak menentu.
Di sisi lain, Araghchi menyinggung pula perkembangan terpisah yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Iran dan Oman tengah bernegosiasi untuk menetapkan rute baru bagi lalu lintas maritim di jalur perairan strategis itu, dan ia menyebut pembicaraan dengan Muscat berjalan cukup baik sejauh ini. Namun ia mengingatkan bahwa tercapainya kesepakatan dengan Oman tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya.
Pembukaan kembali selat tersebut, menurut Araghchi, masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah syarat lain yang telah disampaikan Teheran kepada Washington melalui jalur mediator. Iran memberlakukan pembatasan ketat di Selat Hormuz sejak 28 Februari, melarang kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS melintas dengan aman, sebagai respons atas serangan gabungan kedua negara itu terhadap wilayah Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk dan terpenting di dunia, tempat sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk melintas. Kebuntuan diplomatik antara Teheran dan Washington, ditambah ketidakpastian status selat itu, berpotensi menimbulkan kekhawatiran di pasar energi global dan mempersulit upaya de-eskalasi yang selama ini dimediasi sejumlah negara.
Tag: Iran, Amerika Serikat, Selat Hormuz, diplomasi, MoU