Kemenperin Dorong Produk Agro Artisan Nasional Rebut Pasar Global Senilai Ratusan Miliar Dolar
2026-08-10 17:09 WIB · aindari · 👁 925 dibaca

Dari kakao hingga fermentasi lokal, Indonesia dinilai punya modal kuat untuk bersaing di pasar makanan dan minuman artisan dunia yang terus tumbuh.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menetapkan penguatan produk artisan agro sebagai salah satu prioritas untuk memanfaatkan peluang pasar global yang terus membesar. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan hal itu saat membuka Pameran dan Business Matching Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin.
Faisol menyebut sejumlah sektor yang dinilai memiliki daya saing tinggi, antara lain olahan kakao, kopi, teh, hortikultura, susu, tembakau, dan produk fermentasi berbasis bahan lokal. Potensi itu ia kaitkan dengan proyeksi pasar makanan dan minuman artisan global yang pada 2025 diperkirakan bernilai 332 miliar dolar AS dan bisa melonjak menjadi 627,3 miliar dolar AS pada 2032, dengan laju pertumbuhan tahunan gabungan sekitar 9,5 persen.
Di sektor kopi, posisi Indonesia sebagai produsen terbesar keempat dunia menjadi modal utama. Ekspor kopi olahan nasional tercatat mencapai 692 juta dolar AS pada 2025, tumbuh 4,36 persen dibanding tahun sebelumnya. Untuk kakao, Indonesia kini menduduki peringkat keempat produsen olahan kakao dunia sekaligus ketujuh untuk biji kakao mentah. Sementara ekspor produk hortikultura menyentuh 544,8 juta dolar AS pada 2025, dengan nanas kaleng sebagai salah satu komoditas penyumbang terbesar.
Pada sektor teh, pasar ekstrak teh global menunjukkan pertumbuhan signifikan, dari 3,6 juta dolar AS pada 2019 menjadi 5,6 juta dolar AS pada 2025. Segmen suplemen teh hijau bahkan diproyeksikan menembus 1,33 miliar dolar AS pada 2033, naik dari estimasi 909,9 juta dolar AS di tahun 2025. Industri hasil tembakau juga disebut Faisol sebagai sektor strategis, dengan kinerja ekspor yang menempatkan Indonesia sebagai eksportir tembakau olahan terbesar keenam di dunia.
Faisol turut menyoroti potensi produk fermentasi berbasis lokal yang menurutnya belum sepenuhnya berkembang menjadi ekosistem industri yang matang. Mengacu pada data Fortune Business Insights, pasar pangan fermentasi global diperkirakan bernilai 788,33 juta dolar AS pada 2025 dan bisa mencapai 1,24 miliar dolar AS pada 2034. Ia menegaskan, produk fermentasi lokal berpeluang dikembangkan menjadi sub-sektor industri yang mampu menciptakan nilai tambah.
Adapun industri pengolahan susu dinilai memiliki ruang tumbuh pada produk bernilai tambah seperti keju dan gelato, seiring meningkatnya permintaan dari sektor kuliner, perhotelan, restoran, dan kafe. Faisol menekankan bahwa meningkatnya preferensi konsumen global terhadap produk berkualitas premium, autentik, dan diproduksi secara berkelanjutan menjadi faktor pendorong utama yang membuka celah bagi produk artisan Indonesia untuk memperluas penetrasi di pasar internasional sekaligus memperkuat posisi di dalam negeri.
Tag: produk agro, ekspor pertanian, industri makanan minuman, Kemenperin, artisan